pic.source : https://www.kaskus.co.id/thread/592d7078dac13e344e8b456e/sekolah-kaum-dhuafa-berdinding-quotpeti-kemasquot-di-sudut-terminal-kota-depok/
“Ayo nak! Udah siang, ntar terlambat lho!” kata ibu sambil goreng
telur di dapur
“Ya buk..bentar lagi.” Sambil males-malesan di tempat tidur
Begitulah kira-kira gambaran murid-murid sekolah pada
umumnya, jarang sekali yang antusias buat berangkat ke sekolah.
Dipikirannya cuma ada tugas, soal, ulangan, rumus, hapalan,
dsb yang bikin ga betah lama-lama duduk di kelas. Akhirnya hanya jadi
rutinitas, yang penting dijalani dan dibetah-betahin. Ilmunya bisa “nyantol” ya
alhamdulillah, ga “nyantol” pun tak apa.
Pun orang-orang yang ada di atas selalu koar-koar “Majukan
pendidikan, Majukan pendidikan”, padahal semua orang tau berapa sih rangking
kita? Seberapa sih kemampuan kita?Berapa persen murid dalam satu kelas yang
sukses dan enjoy dengan kehidupannya?.
Jadi harus bagaimana? (Kan itu pertanyaanya.)
Katanya sih!, pendidikan di beberpa negara di luar sana
justru malah sebaliknya. Tak ada PR , ujian juga tak bikin senam jantung,
sekolah tak Cuma melulu di dalam kelas, dan materinya tak banyak macam mau jadi
ilmuwan. Bayangin aja ada negara dimana SD kelas 1 sampai 4 Cuma belajar
Pipolondo atau Ping, Para, lan Sudo (perkalian, pembagian, dan pengurangan
tentu saja dengan penjumlahan) dan negara itu jauh lebih maju.
Yang ga habis pikir nih, terkadang tapi banyak materi-materi
pelajaran yang sama sekali/jarang dipakai di kehidupan nyata. Ngapain juga Ibu
harus ngitung 1/8 kg terigu ditambah 2/7 kg dikurang 6/9 kg, atau buat apa Ayah mau bikin kandang
burung pakai rumus akar pangkat tiga . Dan lucunya, anak 10 tahun disuruh memahami
Mahkamah Kontitusi, Mahkamah Agung dsb yang orang tua pun tak begitu
terpikirkan.
Intinya di sekolah ga enjoy, adanya cuma
terpaksa dan dipaksa. Disuruh bawa buku bertumpuk-tumpuk biar dikira banyak
ilmu. Ibarat sebuah cangkir yang dituang air satu teko, ya pasti banyak yang tumpahlah!
Terkadang iri melihat sekolah disebelah
dimana murid-muridnya ekspresif, banyak kegiatan menyenangkan, gurunya bisa fokus
dan bebas berekspesi yang tentunya buat memajukan pendidikan murid-muridnya.
Normatif! Ya begitulah kira-kira.
Pembelajaran yang menyenangkan, media-media yang menarik, aktif, kreatif. Mau
menarik darimana kalau mau pakai ini tak boleh, mau begitu tak ada dananya, mau
beli ini harus sesuai juknis. Pembelajaran yang menarik, pembelajaran yang
menyenangkan juga perlu biaya.
Materi! Ya, Materi! Seabrek-abrek dan
harus selesai dalam waktu tertentu. Bagaimana mau menyenangkan kalau baru
melangkah ke luar kelas aja waktunya dah habis. Seolah-olah dikejar setan yang
akhirnya ambil jalan pintas yang penting materi selesai.
Mau maju ya harus fokus, pekerjaan apapun
kalau fokus pasti hasilnya maksimal. Ini baru ngajar dipanggil suruh ngumpulin
berkas, baru bikin kelompok suruh ngisi ini ngisi itu, tugas ini tugas itu
belum lagi yang harus ngerjakan tugas tambahan yang sifatnya administratif.
Memang sih kurikulum sudah ganti, yang diajarkan
tak cuma Matematika, tak hanya IPA, tak melulu Bahasa Indonesia tapi juga
keterampilannya, sikap sosialnya, sikap spiritualnya. Tapi ya tetap aja nilai
akademis yang jadi anak emas. Lagi-lagi Cuma sekedar normatif!
Guru kreatif, sistemlah yang bikin pasif.
Guru inovatif, tersandung aturan
birokratif.
Guru aktif, tapi sulit produktif.
#potret_pendidikan
#pembelajaran_menarik
#sekolah_menyenangkan
#guru_aktif_inovatif_kreatif
#opini_pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar