Seringkali guru mengeluhkan susahnya mengatur siswa di kelas. Alhasil ketika siswa susah diatur maka materi yang diajarkannya pun akan sulit tersampaikan. Jika sudah begini maka bisa jadi guru akan semakin pusing dan terkadang emosinya meningkat. Misal ketika sedang menjelaskan siswanya malah asik mainan, atau malah membuat gaduh. Tak jarang juga kelas menjadi sangat riuh. Ketika diingatkan akan diam tapi beberapa saat kemudian kembali gaduh lagi. Mau diteruskan menjelaskan akan percuma tapi jika sering menegur waktu pelajaran akan habis. Mungkin ada yangh berpendapat kalau pembelajarannya tidak dibuat menarik dan menyenangkan. Memang teorinya demikian, supaya anak memperhatika maka guru harus pintar-pintar mencari cara supaya pembelajarannya menarik. Tapi apa semua guru bisa demikian, dan apakah semua guru juga punya waktu untuk menyiapkan pembelajaran yang menarik.
Banyak teori yang tentunya dapat mengatasi hal tersebut, misalnya menggunakan pendekatan model pembelajaran yang ini dan yang itu. Tapi sayang juga karena teori tersebut kadang hanya cocok diterapkan pada siswa yang dasarnya memiliki sifat baik. Namun ketika mendapati siswa yang memiliki karakter tidak "baik" maka teori-teori tersebut hanya menjadi sebatas normatif dan apabila diterapkan hanya akan terkesan mengambang ibarat mengisi toples penuh dengan kapas terlihat penuh tapi tidak padat. Lain cerita kalau guru tersebut benar-benar profesional dalam artian dapat membaur dan bisa mengambil hati sehingga apapun yang diperintahkan pasti akan dilaksanakan, namun sekali lagi tak semua guru bisa seperti itu, dan bisa jadi sebagian besar dari guru belum bisa profesional.
Jika Anda bukan guru yang seperti disebut di atas, mungkin cara ini dapat dicoba, karena saya pun bukan termasuk guru yang profesional. Kebetulan saya baru mengajar selama delapan tahun pada tahun 2017 dan beberapa tahun saya terpakan cukup efektif. Namun perlu diketahui bahwa yang saya tangani adalah siswa Sekolah Dasar jadi semisal untuk SMP dan SMA mungkin ada cara lain yang lebih cocok. Karena secara fisik dan mengtal tentu saja beda jadi sulit diterapkan dan mungkin juga tidak cocok untuk sekolah yang berada di kawasan yang notabene kawasan liar atau banyak anak-anak preman dan lain sebagainya. Tentu saja kondisi siswa tiap daerah sangat jauh berbeda jadi bisa saja berhasil namun bisa saja malah jadi bumerang.
Menurut saya, kunci utama ketika menhandle sebuah kelas yakni kita harus konsisten. Mengapa harus konsisten? karena seorang anak paham benar apa yang biasa dilakukan oleh guru maupun orang tuanya dan anak akan mencari celah kebiasaan kita untuk dijadikan senjata ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kalau kita perhatikan di lingkungan keluarga, semisal ada anak yang ngambek atau nangis biasanya akan dijanjikan sesuatu. Contohnya "Jangan nagis ya! nanti kita beli jajan yang banyak" atau yang sering diucapkan "Ayo diam dulu, kalau tidak diam nanti tidak diajak lho". Tapi permasalahannya ketika si anak sudah tidak ngambek atau nangis maka janji itu jarang ditepati. Tak pernah dibelikan jajanan atau ketika masih ngambek tetap saja diajak pergi. Sadar maupun tidak sadar anak akan merekam ketika orang tua memberi janji maka akan tidak lagi dipercaya. Maka anak akan tetap ngambek ataupun nangis ketika dijanjikan sesuatu.
Lalu bagaimana penerapan konsistenitas di sekolah?. Sebenarnya hampir sama dengan di rumah, semisal ketika sedang menjelaskan ada beberapa anak yang malah membuat gaduh secara terus menerus. Mungkin sekali dua kali ditegur kemudian diperingatkan jika masih gaduh bisa diberi peringatan agak keras. Tapi kalau diperingatkan berkali-kali tidak diindahkan bisa dengan peringatan terakhir. Sebagai contoh "Jojon, ini peringatan terakhir kalau masih gaduh kamu Ibu suruh berdiri di depan kelas!" atau mungkin "Jojon, ini peringatan terakhir kalau masih gaduh kamu Ibu minta nunggu didepan kelas!". Nah disinilah terkadang setelah peringatan terakhir guru tidak segera melaksanakan peringatan tersebut, siswa tidak disuruh maju atau disuruh keluar. Apapun yang terjadi usahakan peringatan tersebut dilaksanakan. Bisa jadi siswa tersebut menangis, walaupun demikian usahakan konsisten. Suruh berdiri di depan ya harus berdiri, jika diruh keluar ya keluarkan kalau perlu di tarik agar mau keluar. Mungkin terlihat sadis, tapi jangan kuatir guru tidak akan melakukan hal tersebut berkali-kali biasanya cukup sekali saja seperti itu maka murid yang lain akan paham jika sang guru benar-benar serius dan konsisten. Namun jangan pula selalu terlihat galak. Ketika murid sudah bisa diatur maka tunjukkan kalau Anda sebenarnya menyenangkan. Membaurlah dengan murid maka dengan otomatis murid akan paham.
Demikian trik dari saya untuk menghandle kelas yang susah diatur atau sering gaduh. Tapi sekali lagi, pepatah mengatakan "Lain Ladang Lain Belalang" belum tentu kondisi siswa sama. Kebetulan selama mengajar kodisi siswa saya tidak jauh berbeda, dengan penanganan yang sama maka hasilnya juga sama. Salam Edukasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar