![]() | ||
| Source pict : https://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/555f380e0423bddd758b4567.jpeg?t=o&v=760 |
Kalau dengar kalimat itu pasti kamu akan diprotes kaum perempuan, mereka pasti akan bilang "Enakan bagaimana? uda nyuci, masak, bersih-bersih, belanja, belum lagi anaknya yang rewel dll". Kalau yang kerja di luar rumah beda lagi "Enakan elu kali! lu cuma ke kantor doang pulang-pulang langsung tidur. Lha sini pagi kudu nyiapin sarapan, mandiin anak, nganter ke sekolah, habis tu masih ke kantor juga pe sore, sampe rumah dah cape masih harus masak ngurus anak, malem ngelonin anak, ee situ ikut-ikutan minta dikelonin. Kapan istirahatnya?"
Giliran yang laki-laki membela diri. "Sini kan dah cari duit banting tulang, semua buat anak istri. Harus tanggung jawab di dunia dan diakherat, bahkan dibela-belain ga makan karena duitnya ga cukup". Bla bla bla dan lain sebagainya. Semua saling klaim jadi kaum yang tertindas, ngerasa yang lain lebih enak.
Padahal sadar ga sih?. Kata pak ustad "Allah itu maha adil". Jadi kenapa diciptakan laki dan perempuan pasti sudah ditentukan keadilannya karena dua-duanya sama-sama manusia, sama-sama punya akal, sama-sama punya dosa ataupun pahala. Beda di bentuk fisik, fungsi, dan pemikirannya. Tapi walaupun gitu apakah sang Pencipta tidak memikirkan sisi keadilannya? rasanya ga mungkin deh.
Yang bikin terasa ga adil tu kan ya manusianya itu sendiri, sifat manusia yang banyak keinginan. Sudah ditentuka kodratnya, sudah ditentukan fungsinya, sudah pula ditentukan tugasnya. Siapa coba yang sukanya melenceng? ya manusia.
Yang laki jadi perempuan, perempuan jadi laki, yang tak boleh dicari-cari biar boleh, yang wajib ditinggalkan, tugas kewajiban ditukar-tukar. Siapa coba yang cari gara-gara? ya manusia.
Sudah ada tuntunannya, sudah ada rambu-rambunya. Tapi maunya ditrabas macam metro mini aja. Tapi ya sudahlah hanya suara hati saja barangkali ada yang sama, kalau yang yang beda itu dah biasa.


