Rabu, 27 September 2017

ENAKAN JADI PEREMPUAN DARIPADA LAKI-LAKI

Source pict : https://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/555f380e0423bddd758b4567.jpeg?t=o&v=760  
Kalau dengar kalimat itu pasti kamu akan diprotes kaum perempuan, mereka pasti akan bilang "Enakan bagaimana? uda nyuci, masak, bersih-bersih, belanja, belum lagi anaknya yang rewel dll". Kalau yang kerja di luar rumah beda lagi "Enakan elu kali! lu cuma ke kantor doang pulang-pulang langsung tidur. Lha sini pagi kudu nyiapin sarapan, mandiin anak, nganter ke sekolah, habis tu masih ke kantor juga pe sore, sampe rumah dah cape masih harus masak ngurus anak, malem ngelonin anak, ee situ ikut-ikutan minta dikelonin. Kapan istirahatnya?"

Giliran yang laki-laki membela diri. "Sini kan dah cari duit banting tulang, semua buat anak istri. Harus tanggung jawab di dunia dan diakherat, bahkan dibela-belain ga makan karena duitnya ga cukup". Bla bla bla dan lain sebagainya. Semua saling klaim jadi kaum yang tertindas, ngerasa yang lain lebih enak. 

Padahal sadar ga sih?. Kata pak ustad "Allah itu maha adil". Jadi kenapa diciptakan laki dan perempuan pasti sudah ditentukan keadilannya karena dua-duanya sama-sama manusia, sama-sama punya akal, sama-sama punya dosa ataupun pahala. Beda di bentuk fisik, fungsi, dan pemikirannya. Tapi walaupun gitu apakah sang Pencipta tidak memikirkan sisi keadilannya? rasanya ga mungkin deh.

Yang bikin terasa ga adil tu kan ya manusianya itu sendiri, sifat manusia yang banyak keinginan. Sudah ditentuka kodratnya, sudah ditentukan fungsinya, sudah pula ditentukan tugasnya. Siapa coba yang sukanya melenceng? ya manusia.

Yang laki jadi perempuan, perempuan jadi laki, yang tak boleh dicari-cari biar boleh, yang wajib ditinggalkan, tugas kewajiban ditukar-tukar. Siapa coba yang cari gara-gara? ya manusia.

Sudah ada tuntunannya, sudah ada rambu-rambunya. Tapi maunya ditrabas macam metro mini aja.  Tapi ya sudahlah hanya suara hati saja barangkali ada yang sama, kalau yang yang beda itu dah biasa.

Selasa, 26 September 2017

SEMUA KARENA MATA




Waktu itu di sebuah sudut samping restoran terlihat seorang pemuda berbadan ceking dengan kemeja putih dan celana hitam khas pegawai training. Kelihatannya lelah dan lusuh dan ternyata habis didamprat Bosnya. Katanya males-malesan tak niat kerja. Padahal tiap kali makan di restoran itu, si pemuda ini selalu cekatan melayani pelanggan. Set..set..set macam pemain badminton ketika mensmash lawan mainnya. Justru pegawai-pegawai lainnya yang seragamnya sudah pegawai tetap malah santai-santai. Kadang malah nyuruh-nyuruh pegawai training. Barulah kalau si Bos pemilik restoran datang langsung sibuk semua.

Usut punya usut ternyata si pemuda kena damprat lantaran ketahuan tidur saat jam kerja. Si Bos mengira kalau si pemuda ini ogah-ogahan kerja soalnya waktu itu pegawai tetap lainya baru sok sibuk ngelayani pelanggan padahal restoran sedang tak terlalu ramai. Ternyata pemuda itu kelelahan karena terus-terusan kerja bahkan jam istirahatnya pun tak diambil karena pegawai lainnya sibuk istirahat padahal restoran baru banyak pelanggan. Jadi ketika pas sepi pelanggan ia menyempatkan istirahat. Baru beberapa menit memejamkan mata tiba-tiba sudah kena damprat.

Mungkin pernah sama ngalamin hal itu? Atau serupa? Baru istirahat sebentar ee ketauan Bos padahal si Bos tak pernah liat kerja kita. Taunya Bos kalau dia liat kita baru kerja pasti dia kira kita pegawai yang rajin. Padahal pas si Bos pergi..tau sendiri.

Baru duduk sebentar dikira tak ada kerjaan, baru istirahat karena pusing kerjaan dikira sudah selesai, baru lihat inbox di hape dikira mainan hape.

Ya jangan heran kalau orang yang rajin lama-lama jadi males, lama-lama jadi pesimis, lama-lama jadi tak produktif kalau yang dinilai hanya yang diliat saja. 

Yah itulah faktanya, percaya hanya kalau melihat saja padahal mata bisa ditipu, apa yang dilihat mata belum tentu sama dengan apa yang dilihat hati karena mata hati dan mata kepala harus bisa berkolaborasi.

Minggu, 24 September 2017

Trik Mengatasi Siswa Agar Tertib

Seringkali guru mengeluhkan susahnya mengatur siswa di kelas. Alhasil ketika siswa susah diatur maka materi yang diajarkannya pun akan sulit tersampaikan. Jika sudah begini maka bisa jadi guru akan semakin pusing dan terkadang emosinya meningkat. Misal ketika sedang menjelaskan siswanya malah asik mainan, atau malah membuat gaduh. Tak jarang juga kelas menjadi sangat riuh. Ketika diingatkan akan diam tapi beberapa saat kemudian kembali gaduh lagi. Mau diteruskan menjelaskan akan percuma tapi jika sering menegur waktu pelajaran akan habis. Mungkin ada yangh berpendapat kalau pembelajarannya tidak dibuat menarik dan menyenangkan. Memang teorinya demikian, supaya anak memperhatika maka guru harus pintar-pintar mencari cara supaya pembelajarannya menarik. Tapi apa semua guru bisa demikian, dan apakah semua guru juga punya waktu untuk menyiapkan pembelajaran yang menarik.

Banyak teori yang tentunya dapat mengatasi hal tersebut, misalnya menggunakan pendekatan model pembelajaran yang ini dan yang itu. Tapi sayang juga karena teori tersebut kadang hanya cocok diterapkan pada siswa yang dasarnya memiliki sifat baik. Namun ketika mendapati siswa yang memiliki karakter tidak "baik" maka teori-teori tersebut hanya menjadi sebatas normatif dan apabila diterapkan hanya akan terkesan mengambang ibarat mengisi toples penuh dengan kapas terlihat penuh tapi tidak padat. Lain cerita kalau guru tersebut benar-benar profesional dalam artian dapat membaur dan bisa mengambil hati sehingga apapun yang diperintahkan pasti akan dilaksanakan, namun sekali lagi tak semua guru bisa seperti itu, dan bisa jadi sebagian besar dari guru belum bisa profesional.

Jika Anda bukan guru yang seperti disebut di atas, mungkin cara ini dapat dicoba, karena saya pun bukan termasuk guru yang profesional. Kebetulan saya baru mengajar selama delapan tahun pada tahun 2017 dan beberapa tahun saya terpakan cukup efektif. Namun perlu diketahui bahwa yang saya tangani adalah siswa Sekolah Dasar jadi semisal untuk SMP dan SMA mungkin ada cara lain yang lebih cocok. Karena secara fisik dan mengtal tentu saja beda jadi sulit diterapkan dan mungkin juga tidak cocok untuk sekolah yang berada di kawasan yang notabene kawasan liar atau banyak anak-anak preman dan lain sebagainya. Tentu saja kondisi siswa tiap daerah sangat jauh berbeda jadi bisa saja berhasil namun bisa saja malah jadi bumerang.

Menurut saya, kunci utama ketika menhandle sebuah kelas yakni kita harus konsisten. Mengapa harus konsisten? karena seorang anak paham benar apa yang biasa dilakukan oleh guru maupun orang tuanya dan anak akan mencari celah kebiasaan kita untuk dijadikan senjata ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kalau kita perhatikan di lingkungan keluarga, semisal ada anak yang ngambek atau nangis biasanya akan dijanjikan sesuatu. Contohnya "Jangan nagis ya! nanti kita beli jajan yang banyak" atau yang sering diucapkan "Ayo diam dulu, kalau tidak diam nanti tidak diajak lho". Tapi permasalahannya ketika si anak sudah tidak ngambek atau nangis maka janji itu jarang ditepati. Tak pernah dibelikan jajanan atau ketika masih ngambek tetap saja diajak pergi. Sadar maupun tidak sadar anak akan merekam ketika orang tua memberi janji maka akan tidak lagi dipercaya. Maka anak akan tetap ngambek ataupun nangis ketika dijanjikan sesuatu.

Lalu bagaimana penerapan konsistenitas di sekolah?. Sebenarnya hampir sama dengan di rumah, semisal ketika sedang menjelaskan ada beberapa anak yang malah membuat gaduh secara terus menerus. Mungkin sekali dua kali ditegur kemudian diperingatkan jika masih gaduh bisa diberi peringatan agak keras. Tapi kalau diperingatkan berkali-kali tidak diindahkan bisa dengan peringatan terakhir. Sebagai contoh "Jojon, ini peringatan terakhir kalau masih gaduh kamu Ibu suruh berdiri di depan kelas!" atau mungkin "Jojon, ini peringatan terakhir kalau masih gaduh kamu Ibu minta nunggu didepan kelas!". Nah disinilah terkadang setelah peringatan terakhir guru tidak segera melaksanakan peringatan tersebut, siswa tidak disuruh maju atau disuruh keluar. Apapun yang terjadi usahakan peringatan tersebut dilaksanakan. Bisa jadi siswa tersebut menangis, walaupun demikian usahakan konsisten. Suruh berdiri di depan ya harus berdiri, jika diruh keluar ya keluarkan kalau perlu di tarik agar mau keluar. Mungkin terlihat sadis, tapi jangan kuatir guru tidak akan melakukan hal tersebut berkali-kali biasanya cukup sekali saja seperti itu maka murid yang lain akan paham jika sang guru benar-benar serius dan konsisten. Namun jangan pula selalu terlihat galak. Ketika murid sudah bisa diatur maka tunjukkan kalau Anda sebenarnya menyenangkan. Membaurlah dengan murid maka dengan otomatis murid akan paham.

Demikian trik dari saya untuk menghandle kelas yang susah diatur atau sering gaduh. Tapi sekali lagi, pepatah mengatakan "Lain Ladang Lain Belalang" belum tentu kondisi siswa sama. Kebetulan selama mengajar kodisi siswa saya tidak jauh berbeda, dengan penanganan yang sama maka hasilnya juga sama. Salam Edukasi.

Kamis, 07 September 2017

Orang Tua Tapi Bocah



Beda dulu beda sekarang, kalau jaman dulu orang mau menikah (kelihatnnya sih..karena saat itu masih kecil) harus sudang mateng pikirannya walopun usianya masih muda-muda. Jadi ya ketika punya anak mereka tau diri yang namanya jadi orang tua tu kaya gimana lagipula mereka masih “mendengar” apa kata generasi sebelumnya. Mitos dan pamali masih jadi sesuatu yang ditakuti yang sebenernya itu mengajarkan kebaikan.
Emang sih, jaman itu masih minim teknologi, masih tradisional, seadanya tak seperti jaman sekarang yang bebas mau apa aja, kemana aja, kapan aja, pokonya semaunya bisa. Tapi yang namanya jadi orang tua ya tetep aja sama. Harus didik anaknya yang baik, ga masa bodo, tau diri kalo harus jadi panutan dan lain sebagainya.
Kalo diperhatiin, para OTB (Orang Tua Baru) kadang bikin gemes, bikin geleng-geleng, bikin prihatin. Ya walopun ga semua, ada juga yang bagus bener-bener jadi orang tua buat anak-anaknya.
Berikut ciri-ciri OTB dari hasil penerawangan :
1.       Baby Doll (Baby : bayi , Doll : boneka) menganggap bayi/anak seperti boneka. Dipakein ini, dibuat begitu, disuruh berpose, dibentuk aneh-aneh, ada lagi yang dimasukin kranjang difoto trus dipamerin ke socmed biar dianggap keren padahal belum tentu baik buat si anak.
2.       Nurutin Hobi, kalo ini yang uda agak gede usia-usia SD. Kadang bapaknya hobinya apa trus anaknya diajak, fine-fine aja sih cuma kadang anak jadi ikut-ikutan tapi ga terkontrol. Lupa waktu, lupa diri (asal bukan lupa ingatan), ga bisa menempatkan. For example aja ada beberapa anak yang mungkin bapaknya hobi bola dan ngefan sama club tertentu. Si anak ikut-ikutan tapi ga tau tempat. Buku-buku sekolah ditulis-tulisi club tertentu, baju sekolah, sampe corat-coret dinding. Atribut dibawa-bawa kemana-mana (biar pamer maksudnya). Ini sekolah son! Bukan stadion.
3.       Like Father Like Mother Like Son. Ini sering ketemu di mall-mall. Baby baru lahir 2 hari dah diajak jalan2 ke mall. Alasanya biar babynya ga suntuk di rumah (padahal emaknya yg hobi jalan2). Ga sekalian dibawa ke night club aja?. Dah gitu pas jajan si baby juga suruh makan yang di makan orang tuanya juga. Mang perut baby dah kebal ya?. Mungkin.
4.       Bangga Walau Bukan Usianya, yang ini biasanya mulai dari baby sampe usia SD/SMP. Sering ketemu sama orang-orang yang anaknya masih SD kelas 5 ato 6 kayaknya suatu prestasi banget kalo udah bisa ngajarin anaknya naik motor trus bisa nganter emaknya ke pasar. Yang namanya anak-anak taunya Cuma seneng dan pengin pamer. Pas Pak sama Emaknya pergi kondangan, ngeluyur tu bocah bawa motor bapaknya. Boncengin temen2nya sampe tiga emapt lima. Bleyer2 ga karuan. Giliran ditelpon rumah sakit nangis2.
5.       Bebas Aja Lah. Anak-anak gue apa urusan loh?. Gitu bunyinya kalo ditegur. Huft. Sikapnya ga sopan juga ga ditegur, suka ngerusak juga dibiarin, perilakunya mirip preman malah bangga malah didukung dianggep anaknya pemberani.

Selasa, 05 September 2017

SEKOLAH MACAM APA INI?




pic.source : https://www.kaskus.co.id/thread/592d7078dac13e344e8b456e/sekolah-kaum-dhuafa-berdinding-quotpeti-kemasquot-di-sudut-terminal-kota-depok/

“Ayo nak! Udah siang, ntar terlambat lho!” kata ibu sambil goreng telur di dapur
“Ya buk..bentar lagi.” Sambil males-malesan di tempat tidur
Begitulah kira-kira gambaran murid-murid sekolah pada umumnya, jarang sekali yang antusias buat berangkat ke sekolah.

Dipikirannya cuma ada tugas, soal, ulangan, rumus, hapalan, dsb yang bikin ga betah lama-lama duduk di kelas. Akhirnya hanya jadi rutinitas, yang penting dijalani dan dibetah-betahin. Ilmunya bisa “nyantol” ya alhamdulillah, ga “nyantol” pun tak apa.

Pun orang-orang yang ada di atas selalu koar-koar “Majukan pendidikan, Majukan pendidikan”, padahal semua orang tau berapa sih rangking kita? Seberapa sih kemampuan kita?Berapa persen murid dalam satu kelas yang sukses dan enjoy dengan kehidupannya?.
Jadi harus bagaimana? (Kan itu pertanyaanya.)

Katanya sih!, pendidikan di beberpa negara di luar sana justru malah sebaliknya. Tak ada PR , ujian juga tak bikin senam jantung, sekolah tak Cuma melulu di dalam kelas, dan materinya tak banyak macam mau jadi ilmuwan. Bayangin aja ada negara dimana SD kelas 1 sampai 4 Cuma belajar Pipolondo atau Ping, Para, lan Sudo (perkalian, pembagian, dan pengurangan tentu saja dengan penjumlahan) dan negara itu jauh lebih maju.

Yang ga habis pikir nih, terkadang tapi banyak materi-materi pelajaran yang sama sekali/jarang dipakai di kehidupan nyata. Ngapain juga Ibu harus ngitung 1/8 kg terigu ditambah 2/7 kg dikurang 6/9 kg, atau buat apa Ayah mau bikin kandang burung pakai rumus akar pangkat tiga  . Dan lucunya, anak 10 tahun disuruh memahami Mahkamah Kontitusi, Mahkamah Agung dsb yang orang tua pun tak begitu terpikirkan.
Intinya di sekolah ga enjoy, adanya cuma terpaksa dan dipaksa. Disuruh bawa buku bertumpuk-tumpuk biar dikira banyak ilmu. Ibarat sebuah cangkir yang dituang air satu teko, ya pasti banyak yang tumpahlah!

Terkadang iri melihat sekolah disebelah dimana murid-muridnya ekspresif, banyak kegiatan menyenangkan, gurunya bisa fokus dan bebas berekspesi yang tentunya buat memajukan pendidikan murid-muridnya.

Normatif! Ya begitulah kira-kira. Pembelajaran yang menyenangkan, media-media yang menarik, aktif, kreatif. Mau menarik darimana kalau mau pakai ini tak boleh, mau begitu tak ada dananya, mau beli ini harus sesuai juknis. Pembelajaran yang menarik, pembelajaran yang menyenangkan juga perlu biaya.

Materi! Ya, Materi! Seabrek-abrek dan harus selesai dalam waktu tertentu. Bagaimana mau menyenangkan kalau baru melangkah ke luar kelas aja waktunya dah habis. Seolah-olah dikejar setan yang akhirnya ambil jalan pintas yang penting materi selesai.

Mau maju ya harus fokus, pekerjaan apapun kalau fokus pasti hasilnya maksimal. Ini baru ngajar dipanggil suruh ngumpulin berkas, baru bikin kelompok suruh ngisi ini ngisi itu, tugas ini tugas itu belum lagi yang harus ngerjakan tugas tambahan yang sifatnya administratif. 

Memang sih kurikulum sudah ganti, yang diajarkan tak cuma Matematika, tak hanya IPA, tak melulu Bahasa Indonesia tapi juga keterampilannya, sikap sosialnya, sikap spiritualnya. Tapi ya tetap aja nilai akademis yang jadi anak emas. Lagi-lagi Cuma sekedar normatif!

Guru kreatif, sistemlah yang bikin pasif.
Guru inovatif, tersandung aturan birokratif.
Guru aktif, tapi sulit produktif.
#potret_pendidikan
#pembelajaran_menarik
#sekolah_menyenangkan
#guru_aktif_inovatif_kreatif
#opini_pendidikan