Waktu itu di sebuah sudut samping restoran terlihat seorang pemuda
berbadan ceking dengan kemeja putih dan celana hitam khas pegawai training.
Kelihatannya lelah dan lusuh dan ternyata habis didamprat Bosnya. Katanya
males-malesan tak niat kerja. Padahal tiap kali makan di restoran itu, si
pemuda ini selalu cekatan melayani pelanggan. Set..set..set macam pemain
badminton ketika mensmash lawan mainnya. Justru pegawai-pegawai lainnya yang
seragamnya sudah pegawai tetap malah santai-santai. Kadang malah nyuruh-nyuruh pegawai
training. Barulah kalau si Bos pemilik restoran datang langsung sibuk semua.
Usut punya usut ternyata si pemuda kena damprat lantaran
ketahuan tidur saat jam kerja. Si Bos mengira kalau si pemuda ini ogah-ogahan
kerja soalnya waktu itu pegawai tetap lainya baru sok sibuk ngelayani pelanggan
padahal restoran sedang tak terlalu ramai. Ternyata pemuda itu kelelahan karena
terus-terusan kerja bahkan jam istirahatnya pun tak diambil karena pegawai
lainnya sibuk istirahat padahal restoran baru banyak pelanggan. Jadi ketika pas
sepi pelanggan ia menyempatkan istirahat. Baru beberapa menit memejamkan mata
tiba-tiba sudah kena damprat.
Mungkin pernah sama ngalamin hal itu? Atau serupa? Baru
istirahat sebentar ee ketauan Bos padahal si Bos tak pernah liat kerja kita.
Taunya Bos kalau dia liat kita baru kerja pasti dia kira kita pegawai yang
rajin. Padahal pas si Bos pergi..tau sendiri.
Baru duduk sebentar dikira tak ada kerjaan, baru istirahat karena pusing kerjaan dikira sudah selesai, baru lihat inbox di hape dikira mainan hape.
Ya jangan heran kalau orang yang rajin lama-lama jadi males, lama-lama jadi pesimis, lama-lama jadi tak produktif kalau yang dinilai hanya yang diliat saja.
Baru duduk sebentar dikira tak ada kerjaan, baru istirahat karena pusing kerjaan dikira sudah selesai, baru lihat inbox di hape dikira mainan hape.
Ya jangan heran kalau orang yang rajin lama-lama jadi males, lama-lama jadi pesimis, lama-lama jadi tak produktif kalau yang dinilai hanya yang diliat saja.
Yah itulah faktanya, percaya hanya kalau melihat saja padahal mata bisa ditipu, apa yang dilihat mata belum tentu sama dengan apa yang dilihat hati karena mata hati dan mata kepala harus bisa berkolaborasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar